Sepakbola dan Peperangan: Maskulinitas Yang Mengizinkan Kekerasan

Sepakbola tidak dapat dipungkiri adalah olah raga terpopuler di dunia. Untuk meyakinkan anda, saya tidak perlu memberi anda tautan-tautan artikel yang sudah membahas tentang betapa populernya sepakbola di dunia. Ketika menyalakan televisi malam hari di akhir pekan, maka hampir bisa dipastikan anda akan melihat pertandingan sepabola. Kepopuleran sepabola membuatnya menjadi lebih dari sebuah permainan. Sepakbola sudah menjelma menjadi industri yang merasuk ke dalam kehidupan sehari-hari banyak orang.

Tentu ada banyak aspek yang dapat dibahas dari sepakbola, entah itu dari segi ekonomi dan bisnis, segi taktikal, segi politis, hingga dari segi budaya penggemarnya. Yang menarik, semuanya bisa jadi menyangkut hidup dan mati orang yang ada di dalamnya.

Dari segi ekonomi dan bisnis, tentu sepakbola menjadi mata pencaharian bagi baik para pemain, pelatih dan staff klub, pemilik klub, hingga pengurus stadion. Dari segi taktikal, ini adalah hidup mati para pemain dan pelatih.

Sedangkan dari segi politis, tentu sepakbola dapat menjadi hidup dan mati para aktor politik yang berinvestasi di dalamnya. Tentu semuanya memiliki sisi terang dan sisi gelap, namun, salah satu yang sering menjadi sorotan di Indonesia adalah bagaimana melihat segi budaya penggemar sepakbola di mana hidup dan mati menjadi sesuatu yang literal.

Kematian Fans Sepakbola di Indonesia

Ricko Andrean (22) adalah seorang Bobotoh (sebutan untuk penggemar Persib) yang harus meregang nyawa setelah dihajar oleh sesama Bobotoh. Alasannya sungguh menggelikan, Ricko dituduh sebagai bagian dari Jakmania (sebutan untuk penggemar Persija) yang tertangkap tangan sedang menolong Jakmania lain yang sedang dipukuli oleh oknum Bobotoh.

Pada hari itu Ricko sedang tidak mengenakan atribut Bobotohnya sehingga ia menjadi korban salah sasaran para Bobotoh. Ricko pun akhirnya menghembuskan napas terakhirnya setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit.

Kisah Ricko hanyalah satu dari puluhan kisah lainnya di mana seorang penggemar sepakbola harus tewas atas nama rivalitas. Sejatinya, olah raga adalah suatu kompetisi, sangat wajar ketika ada rivalitas di dalamnya. Namun, tentu rivalitas pun memiliki batas-batas wajar yang dapat dipahami dengan mudah oleh sesama manusia. Terbunuh karena rivalitas adalah sebuah kejadian yang ada di luar nalar.

Ada sebuah benang kusut yang melatarbelakangi kasus kekerasan yang berujung kematian para fans sepakbola Indonesia. Entah itu kualitas penyelenggaraan pertandingan yang belum maksimal (masih banyak tiket ilegal, prosedur keamanan yang belum maksimal, dan lain-lain), kesalahpahaman mengenai identitas diri (melihat hooliganisme sebagai sesuatu yang keren), hingga karakteristik dari masyarakat itu sendiri.

Maskulinitas Dalam Sepakbola dan Perang

Olah raga pada umumnya adalah sesuatu yang bersifat maskulin. Maskulin secara sederhana berarti sekelompok sifat yang diatributkan kepada kelelakian. Maskulinitas ini sendiri tidak lepas dari sifat-sifatnya yang mengedepankan dominasi, kekuatan, dan independensi. Pada saat ini, menyajikan pertandingan sepakbola tidak bisa begitu saja. Hanya menyertakan tim yang bertanding, tanpa bumbu-bumbu lain yang menjadi penyedap, menjadikan sepakbola hanya sebagai olah raga biasa.

Olah raga pada umumnya adalah sesuatu yang bersifat maskulin. Maskulinitas ini sendiri tidak lepas dari sifat-sifatnya yang mengedepankan dominasi, kekuatan, dan independensi.

Salah satu bumbu penyedap paling mantap dalam olah raga adalah pengistilahan yang dilakukan untuk para pemain yang sedang bermain di lapangan. Istilah-istilah dalam dunia sepakbola seringkali berkaitan dengan istilah yang berada di medan perang.

Ini adalah sesuatu yang wajar, karena perang sendiri berkaitan erat dengan maskulinitas, di mana pihak yang dominan dalam perang adalah pihak yang menang.

Untuk menjadi dominan, penting bagi sebuah negara untuk memiliki kekuatan (kuasa) yang besar, dan independensi agar tidak terlalu banyak “disetir” oleh para sekutunya. Negara yang kuat adalah negara yang sesuai dengan konteks maskulinitas. Begitu juga dengan sepakbola. Tim yang kuat adalah tim yang sesuai dengan konteks maskulinitas, karena itu, digunakanlah istilah-istilah dalam medan perang untuk menggambarkan sebuah pertandingan sepakbola.

Negara yang kuat adalah negara yang sesuai dengan konteks maskulinitas. Begitu juga dengan sepakbola. Tim yang kuat adalah tim yang sesuai dengan konteks maskulinitas, karena itu, digunakanlah istilah-istilah dalam medan perang untuk menggambarkan sebuah pertandingan sepakbola.

Istilah jenderal lapangan seringkali melekat kepada sosok-sosok pengatur tempo permainan. Xavi Hernandez, Luka Modric, hingga Andrea Pirlo kerap menyandang gelar jenderal karena gaya permainan mereka yang mendikte kawan-kawannya bak seorang jenderal yang menyuruh anak buahnya untuk melakukan hal yang terbaik demi memenangkan pertempuran.

Ada juga Javier Mascherano, Roy Keane, hingga Claude Makelele yang lekat dengan istilah destroyer. Mereka berperan untuk menghancurkan serangan lawan, peran mereka mirip dengan kapal perang tipe destroyer yang bertugas menghancurkan serangan lawan yang datang ke kapal induk.

Selain itu, istilah-istilah yang lebih sederhana seperti “menyerang”, “serangan balik”, “taktik”, “kapten”, adalah istilah-istilah yang juga digunakan dalam peperangan. Ini menggambarkan sedemikian maskulinnya sepakbola.

Ketika Maskulinitas Menjadi Masalah

Maskulinitas menjadi masalah ketika ada miskonsepsi yang ditangkap oleh para penonton baik secara sadar maupun tidak. Miskonsepsi tersebut “mengizinkan” para maskulin untuk melakukan kekerasan. Kali ini kita tidak berbicara tentang kekerasan di atas lapangan, melainkan di luar lapangan.

Penonton sepakbola secara tidak langsung disajikan sebuah tontonan maskulin yang mampu meledak-ledakkan adrenalin mereka. Ini secara tidak langsung membantu mereka menjadi lebih maskulin. Tidaklah perlu timnya menang untuk menjadi lebih maskulin. Dengan berteriak mendukung timnya, mereka sudah merasa menjadi lebih maskulin. Bagi mereka, ini adalah sebuah tambahan penting untuk identitas mereka sebagai seorang maskulin.

Maskulinitas menjadi masalah ketika ada miskonsepsi yang ditangkap oleh para penonton baik secara sadar maupun tidak. Miskonsepsi tersebut “mengizinkan” para maskulin untuk melakukan kekerasan.

Secara wajar, tentu tidak ada hal lebih yang dapat dilakukan para penonton untuk menjadi lebih maskulin lagi. Mengenakan kaos tim di luar pertandingan, berbagi berita dan dukungan terhadap tim di media sosial, memasang sticker tim andalan di kendaraan sehari-hari adalah beberapa hal yang dapat menambahkan maskulinitas mereka.

Namun, ketika para maskulin ini sudah tidak lagi mengindahkan akal sehat dan mengedepankan maskulinitas mereka, tentu jalan kekerasanlah yang diambil. Dengan memukuli tim lawan, mereka mendapatkan banyak poin maskulinitas dalam beberapa saat saja.

  • Dominasi: menghajar suporter lawan hingga tidak berdaya, ini menunjukkan sebuah superioritas.
  • Kekuatan: ketika bogem mentah dan tendangan mampu membuat lawan tidak berdaya, ini menunjukkan bahwa ia adalah seseorang yang kuat.
  • Independensi: tidak perlu bantuan orang tua atau pacar ketika menghajar suporter tim lawan, pun tidak takut hukum, ini menunjukkan bahwa ia adalah seorang manusia yang bebas ketika menghajar lawannya.

Hal-hal yang disebutkan di atas semata-mata dilakukan untuk memenuhi hasrat maskulinitas mereka. Gilanya, perbuatan tersebut seringkali dengan bangga dipamerkan di laman sosial media mereka.

Kesimpulan

Sepakbola adalah sebuah permainan indah yang dapat dinikmati oleh berbagai kalangan. Namun, seringkali sepakbola menjadi cermin negatif yang merupakan bayangan dari kondisi masyarakat. Salah satunya adalah kultur maskulinitas yang masih seringkali mengizinkan kekerasan di Indonesia. Tentunya hal tersebut memiliki preseden buruk terhadap persepakbolaan Indonesia. Diperlukan kerja sama banyak pihak untuk menanggulangi masalah suporter yang sudah seperti benang kusut ini. Semua insan sepak bola Indonesia harus menyadari bahwa sepak bola bukanlah perang dalam artian yang sebenarnya. Tidak perlu ada korban nyawa dalam menikmati sepak bola.