Kritik terhadap Budaya Patriarki dalam Sinetron Dunia Terbalik

Budaya Patriarki menempatkan laki-laki sebagai pihak yang powerful dan pengontrol. Laki-laki harus menjadi pemimpin, pelindung, dan pengendali bagi perempuan. Perempuan dianggap lemah dan harus dilindungi oleh laki-laki. Laki-laki diharuskan menjadi penanggung kehidupan yang lainnya terutama perempuan.

Dunia Terbalik, sinetron yang sedang tayang di salah satu stasiun TV nasional yang menyajikan suatu kehidupan di perkampungan (Ciraos) dimana mayoritas penduduk perempuannya menjadi tenaga kerja wanita di luar negeri dan penduduk laki-lakinya (para suami) menjadi bapak rumah tangga mengurusi urusan domestik rumah tangga.

Dalam sinetron tersebut diceritakan kehidupan suatu masyarakat perkampungan di Jawa Barat. Di kampung tersebut, dikenal dengan nama Ciraos, terdapat 4 sekawan, yaitu Akum, Aceng, Idoy, dan Dadang, yang memiliki istri yang bekerja sebagai TKW. Empat sekawan ini tidak bekerja layaknya suami pada umumnya.

Mereka mengurusi urusan domestik rumah tangga seperti mengurus rumah dan anak. Kehidupan sehari-hari mereka diisi dengan kegiatan yang berhubungan dengan urusan domestik rumah tangga dan berkumpul. Apa yang mereka lakukan ini persis seperti apa yang dilakukan oleh ibu rumah tangga. Bedanya, yang melakukan adalah laki-laki.

 

Salah satu adegan dalam sinetron Dunia Terbalik

Apa yang dilakukan oleh Akum, Aceng, Idoy, dan Dadang ini ternyata dilakukan juga oleh para laki-laki disana. Menjadi bapak rumah tangga merupakan suatu hal yang lumrah terjadi di kampung tersebut. Para suami yang ditinggal istri menjadi TKW di luar negeri akhirnya menggantikan peran istri untuk mengurus anak dan rumah. Kebanyakan dari mereka tidak bekerja dan mengandalkan uang kiriman dari istri.

Awalnya mungkin hanya dianggap sebagai hiburan. Respon yang ditunjukan masyarakat pun hanya sebatas pada hiburan. Namun berbagai masalah yang muncul dalam cerita sinetron tersebut, menunjukkan bahwa ada yang berbeda dalam cerita  tersebut.

Para suami yang ditinggal istri menjadi TKW di luar negeri akhirnya menggantikan peran istri untuk mengurus anak dan rumah. Kebanyakan dari mereka tidak bekerja dan mengandalkan uang kiriman dari istri.

Cerita dalam sinetron tersebut tidak dapat hanya dijadikan sebagai hiburan semata. Kritik sosial sangat kentara terlihat dalam alur cerita sinetron tersebut.

Perempuan Pencari Nafkah Utama

Esih, Eem, Atem, dan Ikoh, yang merupakan istri dari Akum, Aceng, Idoy, dan Dadang, meninggalkan keluarga mereka untuk menjadi tenaga kerja wanita non-formal di luar negeri. Keempat perempuan ini menafkahi keluarganya di Ciraos. Mereka menjadi pencari nafkah utama keluarga. Awalnya mereka menjadi seorang istri pada umumnya, namun karena kebutuhan ekonomi, akhirnya mereka menjadi tenaga kerja wanita non-formal di luar negeri untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar.

Iming-iming gaji yang besar dan kebutuhan yang dirasa besar, membuat para perempuan ini rela untuk meninggalkan keluarga dan menjadi pencari nafkah di negara lain. Terceritakan bahwa para perempuan di kampung Ciraos ini pergi dan pulang ketika Lebaran saja. Para suami menjadi pengurus rumah tangga dan mengandalkan uang kiriman dari sang istri.

Seperti halnya judul sinetron ini, Dunia Terbalik, peran laki-laki dalam rumah tangga yang pada umumnya dijadikan sebagai pencari nafkah menjadi bapak rumah tangga, begitu pula dengan peran perempuan yang pada umumnya sebagai pengurus rumah tangga, menjadi pencari nafkah. Hal ini tidak hanya terjadi pada keluar Akum-Esih, Aceng-EEM, Idoy-Atem, dan Dadang-Ikoh saya, namun kebanyakan keluarga di Kampung Ciraos tersebut mengalami hal serupa.

Posisi perempuan sebagai pencari nafkah utama akhirnya menjadi sesuatu yang lumrah. Pada awalnya, perempuan menjadi pihak yang dinafkahi, namun karena para suami dirasa tidak dapat memberikan nafkah yang layak, sehingga mereka memilih untuk menjadi tenaga kerja non-formal di luar negeri. Tak dipungkiri bahwa faktor ekonomi-lah yang menjadi pendorong para istri untuk bekerja.

Ada perbedaan yang mendasar antara perempuan pencari nafkah utama dan perempuan yang bekerja. Perempuan pencari nafkah utama berarti dia menjadi tulang punggung dan menjadi penyokong ekonomi keluarga.

Posisi perempuan sebagai pencari nafkah utama akhirnya menjadi sesuatu yang lumrah. Pada awalnya, perempuan menjadi pihak yang dinafkahi, namun karena para suami dirasa tidak dapat memberikan nafkah yang layak, sehingga mereka memilih untuk menjadi tenaga kerja non-formal di luar negeri.

Perempuan yang bekerja diartikan sebagai perempuan yang bekerja namun tak menjadi pencari nafkah utama. Pencari nafkah utama pasti bekerja, namun bekerja tidak berarti menjadi pencari nafkah. Yang terceritakan dalam sinetron Dunia Terbalik adalah perempuan pencari nafkah utama.

Kritik terhadap Eksistensi Budaya Patriarki

Dunia Terbaik menjadi suatu kritik sosial bagi eksistensi budaya patriarki. Di tengah situasi dan kondisi masyarakat Indonesia bahkan dunia yang sarat dengan Patriarki, sinetron ini menyuguhkan suatu kondisi dan sudut pandang lain yang berlawanan dengan patriarki.

Laki-laki yang dalam dunia patriarki selalu digambarkan sebagai manusia yang powerful, penuh tanggung jawab, pelindung bagi keluarganya, pencari nafkah utama, menjadi kepala keluarga dan yang memegang kendali atas keluarganya, menjadi manusia yang mengandalkan nafkah dari istri, dikendalikan istri, dan juga dianggap tidak bisa melindungi keluarganya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa apa yang disajikan dalam sinetron Dunia Terbalik merupakan suatu gambaran akan realita sosial yang ada di masyarakat Indonesia terutama di daerah yang sarat dengan tenaga kerja wanita. Hal ini tentunya menjadi tamparan bagi budaya patriarki yang sangat mengelu-elukan posisi laki-laki dalam strata sosial. Laki-laki tidak selalu kuat dan perempuan tidak selamanya lemah.